MESIOTDA Media Interaksi Otonomi Daerah
  1. MESIOTDA
  2. BEST PRACTICE

Menengok rahasia kecantikan Sungai Kalimas Surabaya yuk

"Untuk kehidupan masyarakat yang sehat dan lebih bermartabat."

©2017 Merdeka.com Editor : Anton Sudibyo | Kamis, 30 Maret 2017 11:10

Merdeka.com, Mesiotda - Pembangunan infrastruktur yang cantik, memang digencarkan sejak Tri Rismaharini menjadi walikota Surabaya pada 2011. Targetnya menyulap daerah kumuh menjadi lebih manusiawi.

Salah satunya revitalisasi Sungai Kalimas. Revitalisasi dilakukan dengan menertibkan bangunan liar di sepanjang bantaran sungai ini. Gundukan sampah yang nyaris memenuhi kali dibuang sehingga aliran sungai menjadi lancar.

Tujuan dari program yang dilakukan pada tahun 2013 ini adalah untuk mengembalikan fungsi sungai seperti yang semestinya. Selain membebaskan sungai dari kekumuhan, revitalisasi juga dimaksudkan untuk membuka ruang terbuka hijau di sepanjang bantaran sungai.

“Revitalisasi itu bukan sekadar mengembalikan fungsi sungai, tetapi untuk kehidupan masyarakat yang sehat dan lebih bermartabat,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Hendro Gunawan, kemarin.

Sebelum diberlakukan revitalisasi, kehidupan bantaran sungai Kalimas cukup meresahkan kesehatan. Membuang sampah dan hajat besar di sungai. Padahal, pada saat yang sama, mereka juga memanfaatkan air sungai untuk mandi, dan mencuci pakaian.

“Jadi, bersama dengan usaha untuk menghilangkan kekumuhan itu, kami juga memikirkan agar kehidupan masyarakat di pinggiran sungai bisa lebih sehat dan manusiawi,” kata Hendro.

Karena itu, lanjut Hendro, program pembenahan Kalimas ini tak sekadar dilakukan hanya dengan membersihkan sungai. Namun juga dengan membuka peluang agar masyarakat tetap dapat hidup di sekitar sungai secara sehat.

Caranya, antara lain, adalah dengan “membalik posisi rumah”. Jika semula sebagian besar rumah di situ membelakangi sungai, rumah baru yang dibangun Pemkot Surabaya justru dibikin menghadap ke arah sungai.

Hal itu membuat masyarakat sadar bahwa sungai harus bersih. Jika tidak, mereka akan berhadapan dengan kekumuhan selama-lamanya. Selain menjadikan sungai sebagai halaman, Pemerintah Kota Surabaya juga membangun aneka taman untuk menghilangkan kekumuhan. Taman-taman itu dibangun dengan dengan berbagai konsep.

Hendro mengatakan komunikasi yang komprehensif serta edukasi lingkungan bersih kepada masyarakat, menjadi ramuan yang ampuh untuk membujuk masyarakat supaya meninggalkan bantaran sungai.

Tentu, tak semua warga bisa langsung menerima keputusan penggusuran bangunan di bantaran sungai. “Sebabnya, tidak semua bangunan yang ada di bantaran sungai itu adalah tempat tinggal, tapi ada juga yang menjadi tempat usaha bagi kehidupan ekonomi keluarganya,” ujar Sekda Hendro.

Untuk itu Pemkot Surabaya membangun fasilitas sentral PKL (pedagang kaki lima) di berbagai titik lokasi, bagi warga yang ingin berjualan. “Di sentral PKL, kami sediakan fasilitas sumber air bersih, listrik dan sertifikat. Dengan pemberian fasilitas ini mereka baru mau pindah,” kata Hendro.

Tak hanya memberikan lahan untuk PKL, Pemkot juga menampung semua aspirasi yang diinginkan oleh masyarakat sebagai syarat untuk pindah. Ada yang mau pengobatan gratis, beasiswa sekolah, belajar keterampilan dan perkerjaan.

Contohnya saja belajar ketrampilan membuat kue, Pemkot memfasilitasi warga yang ingin belajar membuat kue dengan didampingi tenaga profesional.

Setelah itu, jika sudah bisa membuat kue, produk mereka akan didistribusikan kepada pelaku-pelaku usaha yang berkerja sama dengan Pemkot Surabaya. “Semua apa yang dinginkan oleh masyarakat kami fasilitasi,” tambah Hendro.

(AS)
  1. Surabaya
KOMENTAR ANDA