MESIOTDA Media Interaksi Otonomi Daerah
  1. MESIOTDA
  2. BEST PRACTICE

Depok miliki kualitas ikan hias bagus dan dikenal dunia

Pusdatin KKP bahkan menyebut bahwa sekitar 75 persen ikan hias yang beredar di pasar dunia berasal dari Indonesia.

©2017 Merdeka.com Editor : Anton Sudibyo | Rabu, 08 Februari 2017 18:11

Merdeka.com, Mesiotda - Selama ini, tak banyak yang tahu bahwa Indonesia merupakan produsen ikan hias air tawar terbesar dunia. Indonesia, sesuai data yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pusdatin KKP), mampu memproduksi 1,315 miliar ekor ikan hias. Pusdatin KKP bahkan menyebut bahwa sekitar 75 persen ikan hias yang beredar di pasar dunia berasal dari Indonesia.

Salah satu sentra penghasil ikan hias tersebut yakni Kota Depok yang masuk lima besar daerah penghasil ikan hias air tawar di Indonesia. Tiap tahun, Kota Depok mampu menghasilkan sekitar 80 juta ekor ikan hias.

“Depok terkenal sebagai penghasil ikan jenis cardinal, red nose, serta neon tetra,” kata Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kota Depok, Ita Wilda, Rabu (8/2).

Belakangan, Kota Depok juga mulai mengembangkan pembudidayaan ikan guppy, ikan cupang hias, serta ikan cupang laga.

Ita menambahkan, ikan hasil pembudidaya dari Kota Depok dikenal sangat tinggi kualitasnya. Selain warnanya yang cerah dan cemerlang, ikan hias dari Depok dikenal memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu juga memiliki daya tahan hidup yang lebih panjang.

Berbagai kelebihan itu membuat ikan hias produksi Kota Depok banyak diburu oleh para penggemar ikan di berbagai belahan dunia. Harganya pun sangat bagus. Di Singapura, harga ikan hias hasil budidaya petani ikan Depok dijual setara dengan Rp 15.000 per ekor.

Sayang, para petani di Depok tak menikmati harga yang bagus itu. Sejumlah petinggi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Kota Depok menuturkan bahwa sejak bertahun-tahun, harga jual ikan hias di tingkat petani di Depok tak pernah lebih tinggi dari Rp1.000 per ekor. Bahkan tak jarang hanya Rp500 per ekor.

Meski harga dinilai masih rendah, namun pembudidaya mampu mendapat keuntungan yang memadai. Dadang Junaedi, salah seorang pembudidaya dari Kelurahan Bojongsari Lama, Kecamatan Bojongsari, menceritakan bahwa usaha budi daya ikan hias di Kawasan Depok masih menjanjikan. Selain itu juga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

Pada tahun 2016, nilai penjualan ikan hias dari Depok mencapai angka Rp61 miliar. Padahal, lahan yang digunakan untuk kegiatan sektor perikanan ini hanya seluas 266 hektare dari sekitar 500 hektare areal pertanian yang dimiliki Kota Depok.

Luasan 266 hektare itu pun masih terbagi ke dalam tiga jenis kegiatan usaha, yakni pembenihan ikan konsumsi, pembesaran ikan konsumsi, dan budidaya ikan hias.

Karena besarnya nilai ekonomis yang dijanjikan oleh usaha budidaya ikan hias ini, jumlah Pokdakan pun terus meningkat. Hingga saat ini tak kurang dari 75 dengan anggota masing-masing sekitar 15-30 pembudidaya. 

Dukungan Pemkot

Pemerintah Kota Depok telah memberikan dukungan untuk pengembangan sektor ini. Dukungan itu antara lain diwujudkan dalam bentuk pemberian penyuluhan melalui 4 orang penyuluh perikanan lapangan (PPL) dari Pemkot Depok serta 5 orang tenaga PPL dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pemkot Depok, menurut Ita Wilda, juga memberikan bantuan sarana dan prasarana produksi seperti pompa air, aerator, serta akuarium. “Pada 2016 lalu, nilai bantuan sarana dan prasarana dari APBD Kota Depok ini mencapai angka Rp 25 juta,” kata Ita. Bersamaan dengan itu, pada tahun yang sama, Pemkot juga menyalurkan bantuan dari APBD Provinsi Jabar yang total nilainya adalah Rp130 juta.

Menurut Ita, dukungan Pemerintah Kota Depok terhadap sektor usaha budidaya ikan hias ini memang masih kecil. Satu dan lain hal, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok juga tak terlalu besar. Pada tahun ini, anggaran untuk sektor perikanan dalam APBD Kota Depok tercatat sebesar Rp500 juta. Itu pun, ujar Ita, sebagian besar digunakan untuk mendorong peningkatan produksi ikan konsumsi seperti gurame, nila, dan lele.

Selain itu, Pemkot juga memberikan dukungan dengan melakukan berbagai pelatihan tentang cara budidaya ikan yang baik, penyakit ikan, pembukuan dan anggaran, serta pengenalan koperasi. Dua materi terakhir ini, menurut Ita sengaja diberikan agar para pembudidaya bukan saja mengenal tatacara berproduksi, tapi juga memperbaiki sistem pengelolaan usaha. “Dari situ, diharapkan akan terjadi perbaikan pengelolaan usaha, terutama untuk penguatan Pokdakan,” katanya.

Penguatan Pokdakan dia anggap memiliki arti yang sangat strategis karena akan memperkuat posisi tawar terhadap tengkulak yang membeli produk para anggota Pokdakan. Bahkan, Ita berharap, melalui kegiatan penguatan kapasitas Pokdakan ini, para pembudidaya ikan di Kota Depok akan mampu menembus pasar ekspor.

Dukungan lain juga diberikan dengan mengirimkan para pembudidaya ikan hias Kota Depok untuk melakukan studi banding ke sentra-sentra produksi ikan hias di daerah lain seperti Blitar, Kediri, dan Tulungagung.

Sebenarnya, sejumlah pelaku usaha budidaya ikan di Kota Depok memang memiliki harapan yang besar agar pemerintah kota memberikan dukungan yang lebih besar dibanding saat ini. Dukungan yang mereka harapkan antara lain adalah bantuan untuk mengakses dana perbankan.

Sejumlah pembudidaya menyatakan, investasi yang harus dikeluarkan untuk memperluas usaha ini relatif mahal dan sulit untuk dibiayai dengan dana sendiri. “Minimal, kami harus keluar modal untuk akuarium, pompa, dan aerator yang jumlahnya lumayan banyak,” ujar salah seorang pembudidaya.

Impian untuk memperluas usaha tentu akan lebih mudah diwujudkan jika ada dukungan pembiayaan dari perbankan. Para petani sadar, tak mudah bagi mereka untuk mengakses langsung dana perbankan karena usaha mereka sebagian besar masih berskala usaha rumahan dan belum ditopang dengan legalitas yang memadai. Persoalan agunan juga kerap menjadi penghalang bagi mereka untuk mengakses dana perbankan.

Mereka berharap, Pemkot Depok dapat menciptakan skema yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan kredit jika ada pembudidaya yang membutuhkan dana untuk membiayai perluasan usahanya.

(AS)
  1. Budidaya Ikan
KOMENTAR ANDA